Melacak Jejak Si Manis di Kota Seribu Candi: Eksistensi Pabrik Gula Demak Idjo di Regentschap Sleman, 1906–1936
Main Article Content
Abstract
This study investigates the historical background of the establishment of the Demak Idjo Sugarcane Mill, its production and distribution activities between 1906 and 1936, and its socio-economic and socio-cultural impacts on workers and the surrounding community. Employing the historical method, which encompasses heuristics, verification, interpretation, and historiography, this research seeks to answer three main questions: the factors driving the establishment of the mill, the processes of production and distribution, and the consequences of its existence on society. Findings reveal that the establishment of the Demak Idjo Sugarcane Mill was motivated by favorable geographical conditions that supported sugarcane cultivation. The factory implemented a systematic production process that included extraction, clarification, evaporation, crystallization, separation of sugar crystals, filtration, packaging, and storage, with final products distributed through the port of Semarang. Beyond economic productivity, the mill contributed to significant changes in local society, influencing both socio-economic structures and socio-cultural dynamics. Overall, the Demak Idjo Sugarcane Mill illustrates how colonial-era industrial enterprises shaped regional development and community life in early twentieth-century Java.
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
References
Algemeen Handelsblad. (1916, Maret 16; 1916, April 25; 1917, April 25; 1921, Mei 1; 1922, Juni 1; 1928, Juni 6; 1929, Juli 9; 1930, Mei 8; 1933, Juni 2; 1936, November 9).
Arsip Emplacement Patoekan, Staatsspoorwegen op Java. (1913).
Bataviaasch Nieuwsblad. (1917, November 7; 1936, Juni 30).
Boedi-Oetomo. (1920, Oktober 29).
Daldjoeni, N. (1992). Geografi baru: Organisasi keruangan dalam teori dan praktek. Bandung: Alumni.
Darmawan, J. (2017). Sejarah nasional: Ketika Nusantara berbicara. Sleman: Deepublish.
De Indische Courant. (1905, Juni 20; 1910, Januari 18; 1911, Januari 24; 1914, Januari 24; 1915, April 30; 1917, April 13; 1918, Juni 28; 1921, April 15; 1927, Juni 19; 1932, Juni 29; 1932, Agustus 24; 1933, Juni 7; 1934, Agustus 22; 1937, Maret 20).
De Locomotief. (1906, Mei 2; 1918, Oktober 4; 1920, Februari 13; 1927, Januari 17; 1927, Februari 24; 1930, Juni 10; 1931, Juni 30; 1935, Februari 21; 1935, Juli 2).
De Telegraaf. (1914, Mei 21; 1919, Juni 16; 1920, Mei 8; 1924, Juni 20).
Djawa-Tengah. (1924, Juni 12).
Effectenboek. (1925, Januari 1; 1926, Januari 1).
Evizal, R. (2018). Pengelolaan perkebunan tebu. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Fauzi, M. (2008). Upacara tradisi Suran Mbah Demang di Desa Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta (Skripsi tidak diterbitkan). Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Geerlings, H. P. (1977). Inventaris van het archief van de Java Suiker Vereniging (JSV), (1916) 1917–1918 (1920). Den Haag: Nationaal Archief, Ministerie van Onderwijs, Cultuur en Wetenschap.
Gordon, A. (1999). The agrarian question in colonial Java: Coercion and colonial capitalist sugar plantations, 1870–1941. Journal of Peasant Studies, 27(1), 1–34. https://doi.org/10.1080/03066159908438723
Groot, K. P. (1925). Het Lendingsziekenhuis “Petronella”. Yogyakarta: Bibliotheek Theol. Universiteit Kampen.
Het Koloniaal Weekblad. (1921, Desember 1).
Het Vaderland. (1933, Januari 10).
Husna, N. M., & Ikaputra. (2024). Tipologi fasad pabrik gula era Hindia Belanda di Yogyakarta. Journal of Architectural Design and Development (JAD), 5(1), 18–31. https://doi.org/10.37253/jad.v5i1.8852
Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1993). Sejarah pendidikan di Indonesia zaman penjajahan. Jakarta: CV. Manggala Bhakti.
Jaarboek voor Suikerfabrikanten op Java. (1911/12; 1912/13; 1913/14).
Jayanti, M. D., Budiono, A., & Junet, A. (2022). Pengaruh penambahan air imbibisi terhadap kehilangan gula dalam ampas di Pabrik Gula Lestari. DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi, 8(3), 480–484. https://doi.org/10.33795/distilat.v8i3.497
Kuntowijoyo. (2013). Pengantar ilmu sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Leirissa, R. Z., Ohorella, G. A., & Tangkilisan, Y. B. (2012). Sejarah perekonomian Indonesia. Yogyakarta: Ombak.
Levert, P. (1934). Inheemsche arbeid in de Java-suikerindustrie (Disertasi PhD). Landbouwhogeschool Wageningen, Wageningen: H. Veenman & Zonen.
Madjid, M. D., & Wahyudhi, J. (2014). Ilmu sejarah: Sebuah pengantar. Depok: Prenadamedia Group.
Masyrullahushomad, M., & Sudrajat, S. (2019). Penerapan Agrarische Wet (Undang-Undang Agraria) 1870: Periode awal swastanisasi perkebunan di Pulau Jawa. Historia: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, 7(2), 159–174. https://doi.org/10.24127/hj.v7i2.2045
Mubyarto, & Daryanti. (1991). Gula: Kajian sosial ekonomi. Yogyakarta: Aditya Media.
Nawawi, I., Ruyadi, Y., & Komariah, S. (2015). Pengaruh keberadaan industri terhadap kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat Desa Lagadar. Sosietas: Jurnal Pendidikan Sosiologi, 5(2), 1–19. https://doi.org/10.17509/sosietas.v5i2.1528
Nieuwe Rotterdamsche Courant. (1927, Juni 10).
Overzichten betreffende de suikerindustrie op Java en Madoera. (1909).
Peturun, P. (2020). Pencabutan Agrarische Wet 1870 dan lahirnya UUPA No. 5 Tahun 1960 sebagai cermin kedaulatan bangsa. Muhammadiyah Law Review, 3(2), 69–79. http://dx.doi.org/10.24127/lr.v3i2.1443
Putri, A. A., Nurjihan, F., Tarigan, R. C. B. Br., & Febriana, I. (2024). Pengembangan teks laporan penelitian dalam penyusunan historiografi sejarah. KOHESI: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 5(1), 15–28. https://doi.org/10.57094/kohesi.v5i1.1653
Rimasari, S. (2021). Industrialisasi gula di Jawa Timur: Pabrik Gula Meritjan Kediri 1883—1929. Historiography: Journal of Indonesian History and Education, 1(1), 96–103. http://dx.doi.org/10.17977/um081v1i12021p96-103
Saputra, J. A. (2017). Peran Bengkel Kereta Api Pengok dalam perawatan lokomotif milik Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij di Semarang Vorstenlanden 1914–1950 (Skripsi tidak diterbitkan). Universitas Negeri Yogyakarta.
Shofiyanti, A. S., & Kusumawati, A. (2024). Perbandingan produktivitas tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) kategori plant cane dan ratoon cane ke-4 varietas Bululawang pada lahan berat di Desa Sambiroto Kecamatan Nanggulan Kabupaten Kulon Progo. Prosiding Seminar Nasional Pembangunan dan Pendidikan Vokasi Pertanian, 5(1), 1203–1209. https://doi.org/10.47687/snppvp.v5i1.1192
Silalahi, A. V. (2024). Kebijakan pengembangan tebu menuju swasembada gula konsumsi. Jurnal Perencanaan Pembangunan Pertanian, 1(1), 75–86.
Soemardjan, S. (1986). Perubahan sosial di Yogyakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Soematra Bode. (1929, Juli 25).
Soerabaiasch Handelsblad. (1929, Mei 21; 1929, Juli 8; 1929, Juli 15; 1931, April 27).
Supriono, A., Zahrosa, D. B., Rosyadi, M. G., Soetriono, S., Sari, S., Muhlis, A., & Amam, A. (2024). Review Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 17 Tahun 2012 tentang peningkatan rendemen dan hablur tanaman tebu. Jurnal Pangan, 32(3), 241–254. https://doi.org/10.33964/jp.v32i3.679
Susilo, A., & Sarkowi, S. (2020). Pengaruh politik Cultuurstelsel terhadap perkembangan masyarakat Indonesia tahun 1830–1870. Swadesi: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sejarah, 1(1), 14–23. https://doi.org/10.26418/swadesi.v1i1.35941
Syahbuddin. (2018). Involusi pertanian di Jawa 1830–1900 dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat desa. Jurnal Pendidikan IPS, 8(1), 11–20. https://doi.org/10.37630/jpi.v8i1.113
Wulan, D. R., & Trilaksana, A. (2020). Perkebunan tebu di Madiun masa Belanda tahun 1900–1930. Avatara: Jurnal Pendidikan Sejarah, 9(1), 1–15.
Yuana, A. S., Kholifah, S., & Anas, M. (2020). Mekanisme survival petani “gurem” pada masa pandemi COVID-19. JSW (Jurnal Sosiologi Walisongo), 4(2), 201–214. https://doi.org/10.21580/jsw.2020.4.2.6201