Tepuk Tepung Tawar Pengantin Baru sebagai Tradisi Budaya Melayu dan Media Pendidikan

Main Article Content

Indah Septi Rahayu
Lestari Setia Ningsih

Abstract

Fresh flour holds significant cultural importance for several tribes in Indonesia, often used in traditional ceremonies such as weddings, childbirth, circumcision, and pilgrimage. This practice has its roots in Hindu rituals and was further influenced by the introduction of Islamic teachings brought by Gujarat and Hadramaut traders in the 7th century AD. These animist and vitalistic traditions, intertwined with Hinduism, continue to hold a strong presence in society. The purpose of this ceremony is to seek protection from danger, ward off misfortune, and gain blessings from deities and supernatural forces. The ritual involves the use of leaves and water, often fragranced with substances like kaffir lime, potpourri, or roses. Rice and paddy, mixed with salt and turmeric, are also sprinkled on individuals as part of the ceremony. Additionally, this tradition serves as a means of preserving cultural heritage, passed down through generations. However, there are differing views regarding this practice, with some considering it an act of shirk due to the belief in the supernatural powers associated with the objects used in the flour ritual. In Aceh, for example, plain flour is utilized in planting rituals, believed to bring good luck and provide sustenance. As a result, plain flour holds significant influence as it can impact an individual's faith and beliefs.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Indah Septi Rahayu, & Lestari Setia Ningsih. (2023). Tepuk Tepung Tawar Pengantin Baru sebagai Tradisi Budaya Melayu dan Media Pendidikan. Multiverse: Open Multidisciplinary Journal, 2(1), 62–67. https://doi.org/10.57251/multiverse.v2i1.924
Section
Articles

References

Andika, R. J. (2018). Upacara Tepuk Tepung Tawar dalam Prosesi Perkawinan Adat Melayu (Studi Pandangan Tokoh Adat di Desa Pantai Cermin Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar Provinsi Riau) (Skripsi). UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Batubara, T., Badrun, B., & Muhajir, A. (2022). Tradisi Tepung Tawar: Integrasi Agama dan Kebudayaan pada Masyarakat Melayu di Sumatera Utara. Local History & Heritage, 2(1), 10–16. https://doi.org/10.57251/lhh.v2i1.288

Dedi, M. (2008). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Enjelina, S. F. Y., Oktavia, D. E., & Efi, A. (2022). Kosmologi dalam Budaya Tradisi Tepuk Tepung Tawar Melayu Provinsi Riau. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(2). https://doi.org/10.24114/gr.v11i2.38050

Hemafitria, H. (2019). Nilai Karakter Berbasis Kearifan Lokal Tradisi Tepung Tawar pada Etnis Melayu Sambas. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 3(2). https://doi.org/10.31571/pkn.v3i2.1435

Hendra, D. F. (2022). Tepuk Tepung Tawar Sebagai Simbol Ritual Budaya Melayu Kabupaten Karimun. Jurnal Tari, Teater Dan Wayang, 5(1).

Kau, S. A. P. (2021). Argumen Islam Ramah Budaya. Malang: Inteligensia Media.

Koentjaraningrat. (2000). Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Koentjaraningrat. (2016). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Mukhtar. (2013). Metode Praktis Penelitian Deskriptif Kualitatif. Jakarta: Reference.

Novianty, F., Wiwik, W., & Sulha, S. (2021). Nilai Kearifan Lokal yang Terdapat pada Acara Tepung Tawar di Desa Sepinggan Kecamatan Semparuk Kabupaten Sambas. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 5(1), 15–24. https://doi.org/10.31571/pkn.v5i1.2438

Putra, S., & Salam, E. N. (2014). Makna Upacara Tepuk Tepung Tawar pada Pernikahan Adat Melayu Riau di Desa Pematang Sikek Kecamatan Rimba Melintang Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau. Jurnal Online Mahasiswa, 1(2).

Rahmawati. (2010). Perubahan Makna Tradisi Tepuk Tepung Tawar Bagi Masyarakat Melayu Riau. Padang: UNP Press.

Rahyono, F. X. (2015). Kearifan Budaya dalam Kata. Jakarta Selatan: Wedatama Widya Sastra.

Rakhmat, J., & Mulyana, D. (2006). Komunikasi Antarbudaya: Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ramadhan, D. (2019). Relevansi Kearifan Lokal Tepung Tawar Dalam Pembelajaran Agama Islam (Studi pada Masyarakat Melayu Pontianak). Tarbiyah: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 8(1). https://doi.org/10.18592/tarbiyah.v8i1.2538

Ramli, S., Putri, S. M., & Fatonah, F. (2017). Peranan Lembaga Adat dalam Melestarikan Budaya Melayu Jambi. Jitan: Jurnal Ilmu Humaniora, 1(2).

Selvia, R., Yuliantoro, Y., & Fiqri, A. (2021). Tepuk Tepung Tawar Dalam Adat Pernikahan Melayu. Innovative: Journal Of Social Science Research, 1(2), 428–431. https://doi.org/10.31004/INNOVATIVE.V1I2.3039

Sinar, T. L. (2005). Adat Budaya Melayu: Jati Diri dan Kepribadian. Medan: Forkala Sumut.

Sugiyono. (2013). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Thaib, M. I. (2009). Tata Cara Adat Perkawinan Melayu di Daik Lingga. Pekanbaru: Unri Press.

Wirdanengsih. (2019). Makna dan Tradisi-Tradisi dalam Rangkaian Tradisi Khatam Quran Anak-Anak di Nagari Balai Gurah Sumatera Barat. Gender Equality: International Journal of Child and Gender Studies, 5(1), 9. https://doi.org/10.22373/equality.v5i1.5375

Wulandari, D. (2018). Hukum Adat Indonesia Suatu Pengantar. Bandung: Rafika Aditama.

Zubaedi. (2011). Desain Pendidikan Karakter. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Similar Articles

1 2 3 4 5 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.